Candi Sambisari: Wisata Candi Bawah Tanah yang Unik di Yogyakarta

Candi Sambisari adalah salah satu destinasi wisata sejarah paling unik di Yogyakarta. Berbeda dari kebanyakan candi yang berdiri di atas permukaan tanah, kompleks Candi Sambisari justru berada sekitar 6,5 meter di bawah permukaan tanah. Keunikan inilah yang membuatnya sering disebut sebagai salah satu “candi bawah tanah” paling menarik di Jogja.
Terletak di kawasan Purwomartani, Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Candi Sambisari cocok dikunjungi oleh wisatawan yang menyukai sejarah, arsitektur kuno, fotografi, hingga perjalanan santai dengan suasana yang tidak terlalu padat. Lokasinya juga strategis karena masih berada di jalur wisata sekitar Kalasan dan Prambanan.
Contents
- 1 Apa Itu Candi Sambisari?
- 2 Sejarah Candi Sambisari
- 3 Daya Tarik Utama Candi Sambisari
- 4 Lokasi Candi Sambisari
- 5 Jam Buka dan Harga Tiket Candi Sambisari
- 6 Aktivitas yang Bisa Dilakukan di Candi Sambisari
- 7 Tips Berkunjung ke Candi Sambisari
- 8 Wisata Dekat Candi Sambisari
- 9 Rekomendasi Itinerary Singkat
- 10 Kesimpulan
- 11 FAQ Candi Sambisari
- 12 What's Your Reaction?
Apa Itu Candi Sambisari?
Candi Sambisari adalah kompleks candi Hindu bercorak Siwaistis yang terdiri atas satu candi induk dan tiga candi perwara. Candi induknya menghadap ke arah barat, memiliki ukuran sekitar 13,65 x 13,65 meter dengan tinggi keseluruhan sekitar 7,5 meter. Di dalam bilik utama terdapat lingga-yoni, simbol penting dalam pemujaan Dewa Siwa.
Kompleks ini berstatus sebagai Bangunan Cagar Budaya, sehingga bukan hanya menarik sebagai tempat wisata, tetapi juga penting sebagai peninggalan arkeologi dan sejarah Jawa Kuno.
Sejarah Candi Sambisari
Sejarah Candi Sambisari sangat menarik karena bangunan ini pernah terkubur cukup lama oleh material vulkanik dari Gunung Merapi. Menurut data Jogja Cagar, posisi Candi Sambisari yang berada 6,5 meter di bawah permukaan tanah menunjukkan bahwa candi ini merupakan salah satu candi yang pernah terkubur aliran lahar Gunung Merapi.
Candi ini ditemukan pada tahun 1966 oleh seorang petani bernama Arjo Wiyono ketika sedang mengolah tanah. Cangkulnya membentur batu berukir yang kemudian diketahui sebagai bagian dari runtuhan candi. Setelah itu, dilakukan proses ekskavasi dan pemugaran selama bertahun-tahun hingga akhirnya Candi Sambisari dipugar dan diresmikan kembali pada 23 Maret 1987.
Mengenai masa pembangunannya, para ahli memiliki beberapa tafsiran. Berdasarkan kajian arsitektur, Candi Sambisari diperkirakan berasal dari abad ke-8, sementara tafsiran lain menempatkannya sekitar abad ke-9 hingga ke-10 Masehi, sezaman dengan candi-candi besar lain seperti Prambanan, Plaosan, dan Sojiwan.
Daya Tarik Utama Candi Sambisari

1. Candi yang Berada di Bawah Permukaan Tanah
Daya tarik terbesar Candi Sambisari adalah posisinya yang berada lebih rendah dari permukaan tanah sekitar. Dari area atas, wisatawan bisa melihat keseluruhan kompleks candi seperti berada di dalam cekungan luas. Bentuk ini memberikan pengalaman visual yang berbeda dibandingkan saat mengunjungi Candi Prambanan, Candi Kalasan, atau Candi Ijo.
Sudut pandang dari atas sangat cocok untuk foto lanskap. Sementara itu, ketika turun ke area candi, pengunjung bisa melihat detail struktur batu, pagar keliling, tangga, dan candi perwara dari jarak dekat.
2. Arsitektur Hindu Siwaistis yang Kuat
Candi Sambisari memiliki unsur keagamaan Hindu yang sangat jelas. Di bagian luar dinding candi induk terdapat relung yang ditempati oleh arca Durga di sisi utara, Ganesa di sisi timur, dan Agastya di sisi selatan. Pada bagian pintu masuk bilik candi juga terdapat relung untuk arca penjaga Mahakala dan Nandiswara, meskipun kedua arca tersebut kini telah hilang.
Keberadaan lingga-yoni di bilik utama memperkuat identitas Candi Sambisari sebagai candi bercorak pemujaan Dewa Siwa. Bagi wisatawan yang tertarik pada arsitektur dan simbolisme Hindu Jawa Kuno, candi ini menawarkan pengalaman belajar yang ringkas tetapi kaya makna.
3. Suasana Tenang dan Tidak Terlalu Ramai
Jika dibandingkan dengan Candi Prambanan, Candi Sambisari biasanya terasa lebih tenang. Area rumput yang luas, struktur candi yang tidak terlalu besar, dan suasana desa di sekitarnya membuat tempat ini nyaman untuk berjalan santai, duduk sebentar, atau mengambil foto tanpa terburu-buru.
Destinasi ini cocok untuk wisatawan yang ingin menikmati sisi lain Yogyakarta: lebih sunyi, lebih lokal, tetapi tetap bernilai sejarah tinggi.
4. Spot Foto Estetik
Candi Sambisari sangat fotogenik karena memiliki komposisi visual yang unik: candi batu andesit berwarna gelap, halaman rumput hijau, tangga turun dari permukaan tanah, dan latar langit terbuka. Waktu terbaik untuk berfoto biasanya pagi atau sore hari saat cahaya matahari tidak terlalu keras.
Lokasi Candi Sambisari
Candi Sambisari berada di Dusun Sambisari, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Koordinat yang tercatat dalam Sistem Informasi Cagar Budaya DIY adalah sekitar 7.762475° LS, 110.446971° BT.
Lokasinya cukup mudah dijangkau dari Kota Yogyakarta maupun dari kawasan Prambanan. Wisatawan bisa menggunakan kendaraan pribadi, motor sewaan, mobil sewaan, atau layanan transportasi online.
Jam Buka dan Harga Tiket Candi Sambisari
Berdasarkan data Sisparnas Kemenparekraf, jam operasional Candi Sambisari tercatat 08.00–16.00 pada hari biasa dan 07.00–17.00 pada akhir pekan. Rentang harga tiket yang tercatat adalah Rp6.000–Rp15.000.
Namun, beberapa kanal wisata mencantumkan harga tiket sekitar Rp5.000 dan jam buka 08.00–17.00 WIB. Karena informasi tiket wisata dapat berubah sewaktu-waktu, sebaiknya wisatawan menyiapkan uang tunai kecil dan mengecek informasi terbaru sebelum datang.
Aktivitas yang Bisa Dilakukan di Candi Sambisari
Ada beberapa aktivitas menarik yang bisa dilakukan saat berkunjung ke Candi Sambisari:
Pertama, wisatawan dapat menyusuri area candi dari bagian atas sebelum turun ke halaman utama. Dari titik ini, bentuk cekungan Candi Sambisari terlihat paling jelas.
Kedua, pengunjung bisa mengamati detail arsitektur candi, mulai dari candi induk, tiga candi perwara, pagar keliling, relung arca, hingga lingga-yoni di bilik utama.
Ketiga, wisatawan dapat mengambil foto dari berbagai sudut. Spot terbaik biasanya berada di area atas yang menghadap langsung ke kompleks candi, tangga turun, dan sisi depan candi induk.
Keempat, Candi Sambisari juga cocok untuk wisata edukasi. Tempat ini dapat menjadi destinasi singkat bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, atau wisatawan yang ingin memahami sejarah Mataram Kuno dan peradaban Hindu di Jawa.
Tips Berkunjung ke Candi Sambisari
Datanglah pada pagi atau sore hari agar cuaca lebih nyaman dan cahaya lebih bagus untuk foto. Hindari datang terlalu siang karena area candi cukup terbuka dan bisa terasa panas.
Gunakan alas kaki yang nyaman karena wisatawan perlu berjalan dan menuruni tangga menuju area candi. Bawa air minum, terutama jika datang saat musim kemarau.
Jaga sikap selama berada di kawasan cagar budaya. Jangan memanjat bagian candi yang tidak diperbolehkan, jangan mencoret batu, dan jangan merusak struktur apa pun. Candi Sambisari bukan hanya objek wisata, tetapi juga warisan budaya yang perlu dijaga bersama.
Wisata Dekat Candi Sambisari
Setelah mengunjungi Candi Sambisari, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan ke beberapa destinasi sekitar Kalasan dan Prambanan. Beberapa pilihan yang relevan antara lain Candi Kalasan, Candi Sari, Candi Kedulan, Candi Prambanan, Candi Ratu Boko, dan Candi Ijo.
Rute ini cocok dibuat sebagai itinerary wisata sejarah setengah hari hingga satu hari penuh di kawasan Sleman timur.
Rekomendasi Itinerary Singkat
Untuk wisatawan yang ingin membuat rute singkat, Candi Sambisari bisa dikunjungi dalam durasi sekitar 45–90 menit. Berikut rekomendasi alurnya:
Mulai pagi hari dari Kota Yogyakarta, lalu menuju Candi Sambisari. Setelah puas berfoto dan mengeksplorasi area candi, lanjutkan ke Candi Kalasan atau Candi Sari. Menjelang sore, wisatawan bisa menuju Candi Prambanan atau Candi Ijo untuk menikmati suasana senja.
Rute ini efisien karena destinasi-destinasi tersebut berada dalam kawasan yang relatif berdekatan.
Kesimpulan
Candi Sambisari adalah destinasi wisata sejarah yang wajib masuk daftar kunjungan saat berada di Yogyakarta, terutama bagi wisatawan yang ingin melihat candi dengan karakter berbeda. Keunikan posisinya yang berada di bawah permukaan tanah, nilai sejarahnya sebagai peninggalan Hindu Siwaistis, serta suasananya yang tenang menjadikan Candi Sambisari sebagai tempat yang menarik untuk belajar, berfoto, dan menikmati sisi arkeologis Jogja.
Bagi traveller yang mencari wisata budaya di Jogja selain Prambanan dan Borobudur, Candi Sambisari adalah pilihan yang tepat: mudah dijangkau, tiketnya terjangkau, dan menawarkan pengalaman visual yang sulit ditemukan di tempat lain.
FAQ Candi Sambisari
Di mana lokasi Candi Sambisari?
Candi Sambisari berada di Dusun Sambisari, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasinya berada di kawasan Sleman timur dan cukup dekat dengan jalur wisata Kalasan–Prambanan.
Apa keunikan Candi Sambisari?
Keunikan utama Candi Sambisari adalah posisinya yang berada sekitar 6,5 meter di bawah permukaan tanah. Kompleks ini terdiri atas satu candi induk dan tiga candi perwara, dengan ciri arsitektur Hindu Siwaistis.
Berapa harga tiket masuk Candi Sambisari?
Data Sisparnas Kemenparekraf mencatat rentang tiket Candi Sambisari sekitar Rp6.000–Rp15.000, sedangkan beberapa kanal wisata mencantumkan tiket sekitar Rp5.000. Karena harga dapat berubah, sebaiknya cek informasi terbaru sebelum berkunjung.
Kapan waktu terbaik berkunjung ke Candi Sambisari?
Waktu terbaik berkunjung adalah pagi atau sore hari. Pada waktu tersebut, cuaca lebih nyaman dan cahaya lebih bagus untuk fotografi.
Apakah Candi Sambisari cocok untuk wisata keluarga?
Ya. Candi Sambisari cocok untuk wisata keluarga, wisata edukasi, dan perjalanan santai. Area candi relatif mudah dijelajahi, tetapi pengunjung tetap perlu berhati-hati saat menuruni tangga menuju kompleks candi.
Berapa lama waktu ideal untuk berkunjung ke Candi Sambisari?
Durasi ideal kunjungan adalah sekitar 45–90 menit. Waktu tersebut cukup untuk melihat area candi, membaca informasi sejarah, mengambil foto, dan menikmati suasana sekitar.




